Modul Pembelajaran Digital · Program Studi Pendidikan Agama IslamDapat digunakan dosen dan mahasiswa tanpa login
Modul Pembelajaran Digital · Prodi PAI

E-PAI STAISAR

Belajar lebih mudah bersama E-PAI STAISAR: materi, panduan, kuis, dan bahan unduhan untuk mahasiswa dan dosen Program Studi Pendidikan Agama Islam. Dapat digunakan tanpa login.

IlmuAkhlakKompetensiMasa Depan

20 Modul untuk Mahasiswa PAI

Setiap modul memuat capaian pembelajaran, peta konsep, uraian per topik dengan dalil dan contoh kontekstual, aktivitas, rubrik, rangkuman, kuis dengan pembahasan, bahan unduhan, dan daftar referensi.

Mulai dari mana?

Semester awal

Mulai dari Modul 01–07: sumber ajaran, akidah-akhlak, fikih, sejarah, landasan pendidikan, profesi guru, dan psikologi peserta didik.

Buka Modul 01 →

Persiapan mengajar & PPL

Modul 08–15: perencanaan, metode, media, evaluasi, micro teaching, administrasi guru, AI, dan video praktik.

Buka Modul 08 →

Belajar mandiri digital

Modul 16–19: literasi referensi, e-learning, pengembangan modul ajar, dan kuis.

Buka Modul 16 →

Menulis skripsi

Modul 20 bersama Modul 16 dan 18: dari pemilihan topik sampai sidang, dengan template matriks literatur dan validasi.

Buka Modul 20 →

Satu platform untuk kompetensi mahasiswa PAI

  • Modul ajar — uraian materi terstruktur yang dapat dibaca di ponsel.
  • Kuis dan latihan — pembahasan muncul otomatis; skor untuk refleksi diri, bukan nilai resmi.
  • E-book dan referensi — daftar pustaka APA 7 dan portal sumber tepercaya.
  • Lembar kerja dan template — DOCX/XLSX yang dapat diedit untuk tugas, PPL, dan skripsi.
  • Penulisan skripsi — panduan langkah demi langkah dan perangkat pendukungnya.

Ilmu, Teknologi, dan Akhlak untuk Pendidikan yang Lebih Baik. Dikembangkan oleh Andika Novriadi Cibro.

© 2026 E-PAI STAISAR. Boleh dibagikan untuk tujuan pendidikan nonkomersial dengan menyebut sumber.

Modul 02: Akidah dan Akhlak

MODUL 02 · E-PAI STAISAR

Akidah dan Akhlak

Membahas dasar keimanan, pemikiran teologi Islam, tasawuf, akhlak, dan pembentukan karakter pendidik.

Penyusun: Andika Novriadi CibroProgram Studi Pendidikan Agama IslamVersi 1.0 · Diperbarui Oktober 2026

Pengantar

Akidah adalah fondasi, akhlak adalah buahnya. Seorang guru PAI tidak cukup menguasai konsep tauhid dan daftar akhlak terpuji; ia perlu mampu menjelaskan keyakinan dengan argumen yang jernih, menghadirkan perbedaan pemikiran secara adil, dan menumbuhkan karakter melalui keteladanan serta pembiasaan yang terencana.

Modul ini membahas konsep akidah dan tauhid, pengenalan aliran-aliran teologi Islam, akhlak dan tasawuf, pendidikan karakter Islami, serta isu-isu kontemporer seperti etika bermedia, perundungan, toleransi, dan budaya dialog.

Capaian pembelajaran

Setelah mempelajari modul ini, Anda diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan konsep dasar akidah dan akhlak.
  2. Menganalisis persoalan etika dengan prinsip Islam dan pertimbangan kontekstual.
  3. Menunjukkan sikap terbuka, santun, dan bertanggung jawab dalam dialog.
  4. Merancang aktivitas pembelajaran karakter yang dapat diamati.

Prasyarat: Memahami rukun iman dan rukun Islam pada tingkat dasar.

Peta konsep

Akidah → Akhlak → Karakter
TOPIK 1Konsep akidah & tauhid
TOPIK 2Aliran pemikiran teologi
TOPIK 3Akhlak & tasawuf
TOPIK 4Pendidikan karakter Islami
TOPIK 5Isu kontemporer

1. Konsep Akidah dan Tauhid

Makna akidah dan iman

Kata ’aqidah berasal dari ’aqada yang berarti mengikat. Secara istilah, akidah adalah keyakinan yang tertanam kuat dalam hati dan tidak bercampur keraguan. Dalam hadis Jibril (HR. Muslim no. 8), iman dijelaskan sebagai percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk. Enam pokok inilah yang dikenal sebagai rukun iman.

Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan iman sebagai tashdiq bil qalb (membenarkan dengan hati), iqrar bil lisan (mengikrarkan dengan lisan), dan ’amal bil arkan (mengamalkan dengan anggota badan). Rumusan ini menunjukkan bahwa iman dan amal saling terkait: iman mendorong amal, dan amal menguatkan iman.

Tauhid dan pembagiannya

Tauhid berarti mengesakan Allah. Dalam literatur akidah, dikenal beberapa cara menguraikan tauhid, antara lain:

Aspek Penjelasan Implikasi pendidikan
Tauhid rububiyah Allah satu-satunya Pencipta, Pemelihara, dan Pengatur alam Menumbuhkan kekaguman ilmiah terhadap alam sebagai ayat-ayat Allah
Tauhid uluhiyah Hanya Allah yang berhak disembah Ibadah yang ikhlas, bebas dari syirik
Tauhid asma’ wa sifat Mengimani nama dan sifat Allah sebagaimana layak bagi-Nya Akhlak meneladani makna sifat Allah (rahmah, ’adl, hilm) sesuai kapasitas manusia

Dalam tradisi Asy’ariyah yang banyak diajarkan di pesantren dan dayah Nusantara, pembelajaran akidah juga dikenal melalui uraian sifat dua puluh (misalnya dalam kitab ’Aqidatul ’Awam dan Kifayatul ’Awam). Guru perlu menghargai keragaman pendekatan ini dan menjelaskannya sebagai cara ulama mensistematisasi pemahaman, bukan sebagai sumber pertentangan.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Makna ringkas: Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

QS. Al-Ikhlas [112]: 1–4

Hubungan iman dan amal dalam pembelajaran

Pembelajaran akidah yang efektif tidak berhenti pada hafalan definisi. Guru dapat menghubungkan setiap rukun iman dengan sikap: iman kepada malaikat pencatat amal menumbuhkan kejujuran saat ujian; iman kepada hari akhir menumbuhkan tanggung jawab; iman kepada takdir menumbuhkan ikhtiar dan tawakal, bukan fatalisme.

Contoh kontekstual. Guru PAI kelas X membuka materi iman kepada qada dan qadar dengan studi kasus siswa yang gagal seleksi beasiswa. Siswa berdiskusi: bagaimana sikap mukmin yang benar—menyalahkan takdir, atau mengevaluasi ikhtiar dan bertawakal? Diskusi diakhiri dengan pembacaan QS. Ar-Ra’d [13]: 11.

Istilah kunci

Akidah
Keyakinan yang tertanam kuat tanpa keraguan.
Tauhid
Mengesakan Allah dalam zat, sifat, perbuatan, dan ibadah.
Syirik
Menyekutukan Allah; lawan dari tauhid.
Tawakal
Berserah diri kepada Allah setelah berikhtiar maksimal.

Pertanyaan refleksi

  • Bagaimana Anda menjelaskan hubungan iman kepada takdir dengan kewajiban berikhtiar kepada siswa SMP?
  • Contoh sikap apa yang dapat diamati sebagai buah dari iman kepada hari akhir?

2. Aliran Pemikiran Teologi Islam

Latar belakang munculnya aliran

Harun Nasution dalam Teologi Islam: Aliran-Aliran, Sejarah, Analisa Perbandingan menjelaskan bahwa persoalan teologi dalam Islam awalnya muncul dari persoalan politik pasca-wafatnya Khalifah Utsman dan peristiwa tahkim (arbitrase) antara Ali dan Mu’awiyah. Persoalan “siapa yang kafir dan siapa yang tetap mukmin” kemudian berkembang menjadi diskusi teologis tentang iman, dosa besar, kehendak manusia, dan sifat Tuhan.

Pengenalan aliran-aliran utama

Aliran Gagasan pokok (ringkas) Catatan pembelajaran
Khawarij Pelaku dosa besar dianggap kafir Pelajaran tentang bahaya takfir dan sikap ekstrem
Murji’ah Menangguhkan penilaian pelaku dosa besar kepada Allah Diskusi relasi iman dan amal
Qadariyah & Jabariyah Kebebasan kehendak manusia vs. keterpaksaan mutlak Dasar diskusi tanggung jawab moral
Mu’tazilah Penekanan pada akal; lima prinsip (al-ushul al-khamsah) Kontribusi pada tradisi rasional dan dialektika
Asy’ariyah Jalan tengah antara nash dan akal; teori kasb Banyak dianut di Nusantara
Maturidiyah Mirip Asy’ariyah dengan porsi akal sedikit lebih besar Dianut luas di dunia Islam bermazhab Hanafi

Prinsip mengajarkan perbedaan pemikiran

Desain materi E-PAI menekankan penyajian aliran teologi secara deskriptif, adil, dan tidak menyederhanakan perbedaan. Prinsip praktisnya:

  1. Gunakan sumber primer atau sekunder akademik, bukan ringkasan polemik.
  2. Jelaskan konteks sejarah setiap gagasan.
  3. Bedakan deskripsi dan penilaian — biarkan siswa memahami argumen sebelum menilainya.
  4. Hindari label merendahkan terhadap kelompok mana pun.
  5. Kaitkan dengan nilai moderasi beragama (wasathiyyah): komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan penerimaan terhadap tradisi (Kementerian Agama RI, 2019).

Kehati-hatian. Pada jenjang sekolah, materi aliran teologi disajikan sebagai sejarah pemikiran untuk menumbuhkan sikap menghargai perbedaan, bukan untuk memperuncing sekat. Pertanyaan siswa yang sensitif dijawab dengan merujuk sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan, bila perlu, dirujuk kepada ulama setempat.

Istilah kunci

Tahkim
Arbitrase antara pihak Ali dan Mu’awiyah setelah Perang Shiffin.
Kasb
Konsep Asy’ariyah: perbuatan diciptakan Allah dan diusahakan manusia.
Takfir
Tindakan mengafirkan sesama Muslim.
Wasathiyyah
Sikap moderat atau jalan tengah.

Pertanyaan refleksi

  • Mengapa penting mempelajari konteks politik di balik lahirnya aliran teologi?
  • Bagaimana Anda menanggapi siswa yang menuduh kelompok lain sesat?

3. Akhlak dan Tasawuf

Pengertian akhlak

Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ’Ulum al-Din mendefinisikan akhlak sebagai keadaan (hai’ah) yang tertanam dalam jiwa, yang darinya lahir perbuatan dengan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan panjang. Definisi ini menunjukkan bahwa akhlak adalah watak yang menetap, bukan perbuatan sesekali. Karena itu, pendidikan akhlak memerlukan pembiasaan dan waktu.

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Makna ringkas: Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.

QS. Al-Qalam [68]: 4

Ruang lingkup akhlak

Yunahar Ilyas dalam Kuliah Akhlaq memetakan ruang lingkup akhlak sebagai berikut:

  • Akhlak terhadap Allah — takwa, cinta dan rida, ikhlas, khauf dan raja’, tawakal, syukur, muraqabah, taubat.
  • Akhlak terhadap Rasulullah — mencintai, meneladani, bershalawat.
  • Akhlak pribadi — shidiq (jujur), amanah, istiqamah, iffah (menjaga kehormatan), mujahadah, syaja’ah (berani), tawadhu’, malu, sabar, pemaaf.
  • Akhlak dalam keluarga — birrul walidain, hak dan kewajiban suami-istri, kasih sayang kepada anak.
  • Akhlak bermasyarakat — bertamu dan menerima tamu, hubungan baik dengan tetangga, ukhuwah.
  • Akhlak bernegara — musyawarah, keadilan, amar makruf nahi mungkar.

Desain E-PAI menambahkan akhlak terhadap ilmu dan lingkungan: kejujuran akademik, menghargai guru dan sumber, serta menjaga alam sebagai amanah.

Tasawuf dan tazkiyatun nafs

Tasawuf adalah disiplin keilmuan yang menitikberatkan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan pendekatan diri kepada Allah. Dalam tasawuf akhlaki, proses ini sering dijelaskan melalui tiga tahap:

  1. Takhalli — mengosongkan diri dari sifat tercela (sombong, dengki, riya’).
  2. Tahalli — menghiasi diri dengan sifat terpuji (ikhlas, sabar, syukur).
  3. Tajalli — tersingkapnya cahaya kebenaran dalam hati sebagai buah dari dua tahap sebelumnya.

Tasawuf yang diajarkan di sekolah menekankan keseimbangan lahir dan batin: ibadah ritual yang tertib (syariat) disertai kesadaran batin (hakikat). Aceh memiliki tradisi tasawuf yang kaya, termasuk melalui ulama seperti Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, dan Syekh Abdurrauf as-Singkili yang dikenal mendamaikan ketegangan pemikiran pada masanya (Azra, 2004).

Contoh kontekstual. Mahasiswa PPL di MA merancang “Jurnal Muhasabah 7 Hari”: setiap malam siswa menuliskan satu perilaku yang ingin ditinggalkan (takhalli) dan satu kebiasaan baik yang dilatih (tahalli). Guru membaca jurnal secara sukarela dan memberi umpan balik personal, tanpa menilai aspek spiritual dengan angka.

Istilah kunci

Akhlak
Watak yang tertanam dalam jiwa yang melahirkan perbuatan secara spontan.
Tazkiyatun nafs
Penyucian jiwa dari sifat tercela.
Muraqabah
Merasa selalu diawasi Allah.
Takhalli–tahalli–tajalli
Tahapan pengosongan, pengisian, dan penyingkapan dalam tasawuf akhlaki.

Pertanyaan refleksi

  • Mengapa definisi akhlak al-Ghazali menuntut pembiasaan jangka panjang?
  • Bagaimana menilai perkembangan akhlak tanpa mereduksinya menjadi angka semata?

4. Pendidikan Karakter Islami

Karakter sebagai tujuan pendidikan

Thomas Lickona (1991) menjelaskan karakter yang baik terdiri atas tiga komponen yang saling terkait: moral knowing (mengetahui yang baik), moral feeling (menginginkan yang baik), dan moral action (melakukan yang baik). Kerangka ini sejalan dengan tradisi Islam yang memadukan ’ilm (pengetahuan), hal (keadaan batin), dan ’amal (perbuatan).

Syed Muhammad Naquib al-Attas (1980) menegaskan bahwa konsep pendidikan dalam Islam paling tepat diungkapkan dengan istilah ta’dib, yaitu penanaman adab—pengenalan dan pengakuan tentang tempat segala sesuatu yang benar—sehingga pendidikan selalu berdimensi akhlak.

Strategi pendidikan karakter

Strategi Penjelasan Contoh di sekolah/madrasah
Keteladanan (uswah) Guru menampilkan perilaku yang diharapkan Datang tepat waktu, menepati janji, berbicara santun
Pembiasaan Perilaku dilatih rutin hingga menjadi kebiasaan Salam, doa sebelum belajar, piket kebersihan
Refleksi Siswa memikirkan makna perilakunya Jurnal muhasabah, diskusi kasus
Disiplin positif Aturan disepakati, konsekuensi logis, tanpa kekerasan Kesepakatan kelas, restitusi
Lingkungan Budaya sekolah mendukung karakter Kantin kejujuran, apresiasi perilaku baik

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

Makna ringkas: Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.

QS. Al-Ahzab [33]: 21 (potongan ayat)

Merumuskan indikator yang dapat diamati

Karakter perlu diterjemahkan menjadi indikator perilaku agar dapat dibina dan dievaluasi. Contoh:

  • Integritas → mengerjakan ujian tanpa menyontek; mengakui kesalahan; mengembalikan barang temuan.
  • Tanggung jawab → mengumpulkan tugas tepat waktu; menyelesaikan piket tanpa diingatkan.
  • Empati → menawarkan bantuan kepada teman yang kesulitan; tidak menertawakan kesalahan orang lain.

Indikator dinilai melalui observasi, jurnal, penilaian diri, dan penilaian antarteman, dengan penekanan pada perkembangan dan umpan balik, bukan label.

Istilah kunci

Ta'dib
Penanaman adab; istilah al-Attas untuk pendidikan dalam Islam.
Uswah hasanah
Teladan yang baik.
Disiplin positif
Pendekatan disiplin tanpa kekerasan yang menumbuhkan kesadaran diri.

Pertanyaan refleksi

  • Perilaku Anda yang mana yang akan paling diperhatikan siswa sebagai teladan?
  • Rumuskan tiga indikator teramati untuk karakter ‘jujur’ di kelas Anda.

5. Isu Kontemporer: Etika Bermedia, Perundungan, Toleransi, dan Dialog

Etika bermedia

Media sosial memperluas ruang dakwah sekaligus risiko: hoaks, ujaran kebencian, dan perundungan siber. Prinsip akhlak Islam yang relevan:

  • Tabayyun — memeriksa kebenaran informasi (QS. Al-Hujurat [49]: 6).
  • Menjaga lisan — “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR. al-Bukhari no. 6018; Muslim no. 47).
  • Larangan mengolok-olok, berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan, dan menggunjing (QS. Al-Hujurat [49]: 11–12).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا

Makna ringkas: Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa; janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.

QS. Al-Hujurat [49]: 12 (potongan ayat)

Perundungan (bullying)

Perundungan adalah perilaku menyakiti yang dilakukan berulang dan melibatkan ketimpangan kekuatan. Di Indonesia, pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan diatur dalam Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 (PPKSP), yang mewajibkan pembentukan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah. Guru PAI dapat berperan melalui pembelajaran empati, kampanye antiperundungan berbasis nilai, dan menjadi orang dewasa yang aman untuk dilapori.

Toleransi dan budaya dialog

Moderasi beragama yang dirumuskan Kementerian Agama RI (2019) memuat empat indikator: komitmen kebangsaan, toleransi, antikekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Dalam pembelajaran, budaya dialog dapat dilatih melalui:

  1. Aturan diskusi yang disepakati (bergiliran bicara, menyerang gagasan bukan orang).
  2. Teknik “parafrase sebelum membantah” — siswa mengulang pendapat lawan bicara sebelum menanggapi.
  3. Studi kasus kerukunan di lingkungan setempat.

Pemikiran Islam kontemporer

Mahasiswa perlu mengenal gagasan pemikir Muslim modern yang memengaruhi pendidikan, misalnya gagasan Islamisasi ilmu (al-Attas, al-Faruqi), integrasi ilmu, dan pendekatan maqashid. Penyajian dilakukan secara kritis: memahami argumen, konteks, serta kekuatan dan keterbatasannya.

Istilah kunci

Perundungan
Perilaku menyakiti berulang dengan ketimpangan kekuatan.
TPPK
Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di satuan pendidikan.
Moderasi beragama
Cara pandang dan praktik beragama yang adil, berimbang, dan menghindari ekstremitas.

Pertanyaan refleksi

  • Bagaimana prinsip QS. Al-Hujurat [49]: 11–12 diterapkan dalam aturan grup WhatsApp kelas?
  • Apa peran guru PAI dalam TPPK sekolah?

Aktivitas belajar

Aktivitas 1: Studi Kasus Dilema Etika di Sekolah

Tujuan: Menganalisis dilema etika dengan prinsip Islam dan pertimbangan kontekstual.

  1. Baca kasus: seorang siswa melihat sahabatnya menyontek pada ujian akhir dan diminta merahasiakannya.
  2. Identifikasi nilai-nilai yang bertentangan (setia kawan vs. kejujuran).
  3. Telusuri dalil dan pendapat ulama yang relevan.
  4. Rumuskan alternatif tindakan dan konsekuensinya.
  5. Pilih tindakan terbaik dan jelaskan argumennya.

Produk/bukti belajar: Lembar analisis kasus 1–2 halaman.

Aktivitas 2: Proyek Pembiasaan Karakter Dua Minggu

Tujuan: Merancang dan menjalankan pembiasaan satu karakter dengan indikator teramati.

  1. Pilih satu karakter (misalnya amanah) dan rumuskan 3 indikator perilaku.
  2. Rancang kegiatan pembiasaan harian selama 14 hari.
  3. Catat pelaksanaan dalam lembar pemantauan.
  4. Refleksikan hambatan dan perubahan yang terjadi.

Produk/bukti belajar: Rancangan proyek, lembar pemantauan, dan refleksi.

Aktivitas 3: Refleksi Keteladanan Guru PAI

Tujuan: Merefleksikan peran keteladanan dalam profesi guru.

  1. Ingat satu guru yang paling memengaruhi akhlak Anda.
  2. Uraikan perilaku spesifik yang Anda teladani.
  3. Kaitkan dengan QS. Al-Ahzab [33]: 21 dan konsep ta’dib.
  4. Tulis komitmen pribadi sebagai calon guru.

Produk/bukti belajar: Esai reflektif 500–700 kata.

Rubrik penilaian

Rubrik Analisis Kasus Etika — skala 4 (Sangat baik) sampai 1 (Perlu bimbingan).

Kriteria4 · Sangat baik3 · Baik2 · Cukup1 · Perlu bimbingan
Identifikasi masalahMengidentifikasi semua nilai yang bertentangan dengan tepatMengidentifikasi sebagian besar nilaiIdentifikasi kurang tepatTidak mengidentifikasi masalah
Penggunaan dalilDalil relevan, sumber jelas, ditafsirkan tepatDalil relevan, sumber kurang lengkapDalil kurang relevanTanpa dalil
Pertimbangan kontekstualMempertimbangkan dampak pada semua pihakMempertimbangkan sebagian pihakPertimbangan dangkalTidak ada pertimbangan
Sikap dialogisSantun, terbuka, argumentatifSantun dan cukup terbukaKurang terbukaMenghakimi

Rangkuman

  • Akidah adalah keyakinan yang kokoh; iman mencakup keyakinan hati, ikrar lisan, dan amal.
  • Tauhid menjadi poros seluruh ajaran dan dapat dihubungkan dengan sikap sehari-hari siswa.
  • Aliran teologi lahir dari konteks sejarah; ajarkan secara deskriptif, adil, dan moderat.
  • Akhlak adalah watak yang menetap; tasawuf akhlaki menempuh takhalli, tahalli, dan tajalli.
  • Pendidikan karakter memadukan moral knowing, feeling, dan action melalui keteladanan, pembiasaan, dan refleksi.
  • Isu kontemporer (media, perundungan, toleransi) dijawab dengan prinsip akhlak dan regulasi yang berlaku.

Evaluasi mandiri

Pilih jawaban; pembahasan muncul otomatis. Skor latihan ini untuk refleksi diri dan tidak menjadi nilai akademik resmi.

1. Dalam hadis Jibril, rukun iman yang keenam adalah iman kepada …

Tepat. Urutan dalam hadis Jibril: Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir.
Belum tepat. Jawaban yang benar: D. Urutan dalam hadis Jibril: Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir.

2. Rumusan iman ‘tashdiq bil qalb, iqrar bil lisan, ’amal bil arkan’ menunjukkan bahwa …

Tepat. Rumusan ini menegaskan keterpaduan keyakinan, ucapan, dan perbuatan.
Belum tepat. Jawaban yang benar: D. Rumusan ini menegaskan keterpaduan keyakinan, ucapan, dan perbuatan.

3. Persoalan teologi dalam Islam pada awalnya muncul dari …

Tepat. Harun Nasution menjelaskan bahwa persoalan politik menjadi pemicu awal perdebatan teologis.
Belum tepat. Jawaban yang benar: B. Harun Nasution menjelaskan bahwa persoalan politik menjadi pemicu awal perdebatan teologis.

4. Aliran yang menganggap pelaku dosa besar sebagai kafir adalah …

Tepat. Khawarij dikenal dengan sikap takfir terhadap pelaku dosa besar.
Belum tepat. Jawaban yang benar: B. Khawarij dikenal dengan sikap takfir terhadap pelaku dosa besar.

5. Teori ‘kasb’ dikenal sebagai gagasan aliran …

Tepat. Kasb adalah konsep Asy’ariyah sebagai jalan tengah antara Jabariyah dan Qadariyah.
Belum tepat. Jawaban yang benar: C. Kasb adalah konsep Asy’ariyah sebagai jalan tengah antara Jabariyah dan Qadariyah.

6. Menurut al-Ghazali, akhlak adalah …

Tepat. Akhlak adalah watak yang menetap dalam jiwa.
Belum tepat. Jawaban yang benar: A. Akhlak adalah watak yang menetap dalam jiwa.

7. Tahap tasawuf akhlaki berupa menghiasi diri dengan sifat terpuji disebut …

Tepat. Takhalli = mengosongkan, tahalli = mengisi/menghiasi, tajalli = tersingkapnya cahaya.
Belum tepat. Jawaban yang benar: B. Takhalli = mengosongkan, tahalli = mengisi/menghiasi, tajalli = tersingkapnya cahaya.

8. Komponen karakter menurut Lickona adalah …

Tepat. Lickona (1991) menyebut tiga komponen karakter yang baik.
Belum tepat. Jawaban yang benar: D. Lickona (1991) menyebut tiga komponen karakter yang baik.

9. Regulasi yang mengatur pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan adalah …

Tepat. Permendikbudristek 46/2023 mengatur PPKSP dan pembentukan TPPK.
Belum tepat. Jawaban yang benar: A. Permendikbudristek 46/2023 mengatur PPKSP dan pembentukan TPPK.

10. Indikator moderasi beragama menurut Kementerian Agama RI (2019) adalah …

Tepat. Empat indikator ini dirumuskan dalam buku Moderasi Beragama (Kemenag, 2019).
Belum tepat. Jawaban yang benar: C. Empat indikator ini dirumuskan dalam buku Moderasi Beragama (Kemenag, 2019).

Bahan unduhan

Referensi

Kitab klasik dicantumkan tanpa tahun karena tersedia dalam banyak edisi; sesuaikan dengan edisi yang Anda gunakan. Naskah regulasi diperiksa pada JDIH/portal resmi kementerian.

  1. Al-Attas, S. M. N. (1980). The concept of education in Islam: A framework for an Islamic philosophy of education. Muslim Youth Movement of Malaysia (ABIM).
  2. Al-Ghazali, A. H. Ihya’ ’ulum al-din. [Kitab rujukan; sesuaikan edisi]
  3. Azra, A. (2004). The origins of Islamic reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern ‘ulama’ in the seventeenth and eighteenth centuries. Allen & Unwin; University of Hawai’i Press.
  4. Ilyas, Y. (1992). Kuliah aqidah Islam. LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  5. Ilyas, Y. (1999). Kuliah akhlaq. LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
  6. Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Moderasi beragama. Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI.
  7. Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility. Bantam Books.
  8. Nasution, H. (1986). Teologi Islam: Aliran-aliran, sejarah, analisa perbandingan. UI Press.
  9. Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. https://peraturan.bpk.go.id
  10. Keputusan Menteri Agama Nomor 512 Tahun 2026 tentang Pedoman Kurikulum Berbasis Cinta. [Verifikasi naskah resmi]

Pernyataan penggunaan AI. Draf materi ini disusun dengan bantuan AI generatif berdasarkan desain materi E-PAI STAISAR dan sumber-sumber yang tercantum. Dalil, nomor hadis, regulasi, dan data wajib ditelaah dosen pengampu serta dicek ulang pada sumber resmi sebelum dikutip dalam karya akademik.

© 2026 E-PAI STAISAR. Boleh dibagikan untuk tujuan pendidikan nonkomersial dengan menyebut sumber.

Komentar